Selasa, 20 Januari 2015



Aku mengoceh lagi. Kita, ah tidak tidak, tepatnya “AKU” kembali memasuki lembar yang baru dan mencoba untuk belajar menuangkan kata rindu di dalamnya. Aku mulai menuliskannya, menulis, menulis, dan menulis.

Menantimu bukanlah hal yang membosankan, bukan pula hal yang melelahkan. Masih duduk terdiam memandangi hamparan warna bunga yang tumbuh dengan indah, menyaksikan kupu-kupu biru terbang melintasi untaian semerbak harum bunga, tercium damai menaungi hati “sedikit berbohong”. Di tempat ini, selalu kutuliskan sajak-sajak sederhana yang bisa menemaniku. Sekiranya esok atau lusa, sajak itu menjelma menjadi hadirmu yang nantinya akan jauh lebih mengindahkan tempat ini, dengan hadirmu, “ada sedikit pengharapan”. 



Dari kabarmu yang setiap malam kunanti, ada kabar yang kurindukan datangnya. Ada pesan yang kuharapkan menyapa rasa kekhawatiranku, aku masih menunggu itu. Entah sampai kapan kabar itu akan tiba dalam malamku “karena aku tak bisa memberimu kabar, aku sedikit canggung untuk itu”. Sebelum bulan menyebut dirinya purnama, seuntai rasa kusimpan dalam sepinya malam dengan berteman bintang-bintang yang selalu setia. Kuharap rasaku atau rasamu mampu kembali bersatu dala satu ruang yang kusebut itu cinta.  


Semua tidak kupersembahkan pada hadirmu “yang pernah”, melainkan kepada hatimu, sebelum kau menyadari atau meyakini bahwa aku telah benar-benar mencintaimu dalam dimensi yang jauh berbeda yang ada dalam pikirmu. Apakah aku bergurau? Tentu tidak, aku yakin dengan apa yang aku tuliskan di saat kau mungkin tengah tertidur lelap setelah seharian kau memberiku cerita baru dalam perjalanan menit yang rapuh.

Aku masih mengingat janji kehidupan yang kau ucapkan pada ku dulu. Dan aku masih mengharapkan itu. Bukankah kau pernah mengirimi ku sebuah postingan tentang “Bidadari” ? aku menyukainya J dan ingin menjadi seperti apa yang kau kirimkan untuk ku. “menjadi bidadari untukmu”. Haha aku kembali mengoceh.
Maaf jika postingan ini membuatmu sedikit terganggu, tapi dengan beginilah aku bisa mengatakan semuanya. Maaf telah mengganggu harimu yang menyenangkan dengan coretan konyol ini. J Sekiranya berat, namun biarkan saja jemari itu mengalirkan rindunya. Entah akan melahirkan berapa cerita atau rasa dalam untaian kata yang selalu kunanti. Seperti yang selalu ku rasa dan apa yang telah Tuhan titipkan.

Setidaknya kau membaca tulisan ini dan memberi satu komentar yang membuatku tersenyum.

Untuk seseorang yang memiliki 7 kata  dalam namanya,
15.1.14