Aku mengoceh lagi. Kita, ah tidak tidak,
tepatnya “AKU” kembali memasuki lembar yang baru dan mencoba untuk belajar
menuangkan kata rindu di dalamnya. Aku mulai menuliskannya, menulis, menulis,
dan menulis.
Menantimu bukanlah hal yang membosankan,
bukan pula hal yang melelahkan. Masih duduk terdiam memandangi hamparan warna
bunga yang tumbuh dengan indah, menyaksikan kupu-kupu biru terbang melintasi
untaian semerbak harum bunga, tercium damai menaungi hati “sedikit berbohong”.
Di tempat ini, selalu kutuliskan sajak-sajak sederhana yang bisa menemaniku.
Sekiranya esok atau lusa, sajak itu menjelma menjadi hadirmu yang nantinya akan
jauh lebih mengindahkan tempat ini, dengan hadirmu, “ada sedikit pengharapan”.
Dari kabarmu yang setiap malam kunanti,
ada kabar yang kurindukan datangnya. Ada pesan yang kuharapkan menyapa rasa
kekhawatiranku, aku masih menunggu itu. Entah sampai kapan kabar itu akan tiba
dalam malamku “karena aku tak bisa memberimu kabar, aku sedikit canggung untuk
itu”. Sebelum bulan menyebut dirinya purnama, seuntai rasa kusimpan dalam
sepinya malam dengan berteman bintang-bintang yang selalu setia. Kuharap rasaku
atau rasamu mampu kembali bersatu dala satu ruang yang kusebut itu cinta.
Semua tidak kupersembahkan pada hadirmu
“yang pernah”, melainkan kepada hatimu, sebelum kau menyadari atau meyakini
bahwa aku telah benar-benar mencintaimu dalam dimensi yang jauh berbeda yang
ada dalam pikirmu. Apakah aku bergurau? Tentu tidak, aku yakin dengan apa yang
aku tuliskan di saat kau mungkin tengah tertidur lelap setelah seharian kau
memberiku cerita baru dalam perjalanan menit yang rapuh.
Aku masih mengingat
janji kehidupan yang kau ucapkan pada ku dulu. Dan aku masih mengharapkan itu. Bukankah
kau pernah mengirimi ku sebuah postingan tentang “Bidadari” ? aku menyukainya J
dan ingin menjadi seperti apa yang kau kirimkan untuk ku. “menjadi bidadari
untukmu”. Haha aku kembali mengoceh.
Maaf jika postingan ini membuatmu
sedikit terganggu, tapi dengan beginilah aku bisa mengatakan semuanya. Maaf telah
mengganggu harimu yang menyenangkan dengan coretan konyol ini. J Sekiranya berat, namun biarkan
saja jemari itu mengalirkan rindunya. Entah akan melahirkan berapa cerita atau
rasa dalam untaian kata yang selalu kunanti. Seperti yang selalu ku rasa dan
apa yang telah Tuhan titipkan.
Setidaknya kau membaca tulisan ini dan
memberi satu komentar yang membuatku tersenyum.
Untuk seseorang
yang memiliki 7 kata dalam namanya,
15.1.14
Tidak ada komentar:
Posting Komentar